Nonverbal Messages
Memahami seseorang yang memiliki masalah komunikasi memang tidaklah mudah. Jangankan orang lain, terkadang kita sendiri tidak jelas dalam berkomunikasi sehingga sering kali kita secara sadar atau tidak, kita berkomunikasi secara nonverbal. Untuk memahami komunikasi nonverbal baik diri sendiri maupun orang lain, kita perlu memahami prinsip-prinsip komunikasi nonverbal, Berikut prinsip-prinsip komunikasi nonverbal, yaitu:
1. Interacting with verbal messages. Bentuk dari prinsip ini ada 6, yaitu:
- Accent: nada bicara, gerakan tangan.
- Complement: tindakan sesuai dengan omongan
- Contradict: tindakan tidak sesuai dengan omongan
- Control: tanya pendapat, kamu mengontrol pembicaraan
- Repeat: "yuk pulang-pulang", sambil gerakan tangan.
- Sustitute: menggantikan verbal menjadi nomverbal
2. Managing impressions; kita membentuk kesan/ impresi terhadap orang lain berdasarkan pada pesan nonverbal. Contoh, ekspresi senyum, flat, cara bicara, dll. Tujuannya adalah untuk disukai, untuk mendapatkan bantuan, untuk ditoleransi, untuk mengonfirmasi citra diri, untuk menyembunyikan kesalahan, dan untuk diikuti (to be followed).
3. Creating immediacy; Tujuannya adalah untuk membangun kedekatan dengan orang lain, tapi tidak semua orang bisa menerima itu, untuk menunjukkan ketertarikan dan perhatian, untuk membangun rasa kebersamaan antara pendengar dan yang didengar.
4. Forming relationship; Tujuannya adalah untuk mengomunikasikan sayang, dukungan, cinta, kemarahan, dan emosional. Contohnya, gaya bicara manja menunjukkan ketertarikan.
5. Structuring conversation; Tujuannya adalah untuk mengatur percakapan, untuk menunjukkan mau bicara, mendengarkan, dan mengomentari. Contohnya, angkat tangan saat mau bicara.
6. Influencing and deveicing; Tujuannya adalah digunakan untuk mempengaruhi orang lain dan menipu atau membohongi orang lain. Truth bias -- kita berasumsi orang berkata benar. Deception bias -- kita berasumsi orang berkata salah.
7. Expressing emotions; komunikasi nonverbal penting untuk menunjukan emosi kita. Contohnya, marah dan sedih.
Pesan nonverbal juga membantu seseorang
mengkomunikasikan sesuatu yang tidak mungkin dikatakan
langsung.
Selain itu, dalam komunikasi nonverbal, kita harus memahami channels komunikasi nonverbal. Berikut channels komunikasi nonverbal, yaitu:
1. Body messages; emblemed, illustrator;
- Affect display untuk menunjukkan kesenangan, kekesalan, kegembiraan. Affect display ialah gerakan wajah yang menunjukkan emosi.
- Regulators; mengatur percakapan
- Self adaptors; contohnya, gigit-gigit kuku, ngupil di depan umum, garuk-garuk muka, dan membersihkan telinga di kelas.
- Alter adaptors; contohnya, ketika kita tidak menyukai orang, kemudian orang itu posisinya dekat dengan kita, kita memasang wajah songong dan manaruh tangan di depan dada.
- Object adaptor; hampir sama dengan self adaptor namun menggunakan benda (objek).
2. Body appearance; mengomunikasikan sesuatu melalui penampilan. Contohnya, potongan rambut, warna rambut.
3. Facial Management; Ekspresi wajah mengomunikasikan emosi. Prinsip satu ini juga bisa tergantung konteks, bisa dipakai sebagai intensity, deintensity, neutralize, mask, simulate.
- Intensity: menghargai perasaan teman.
- Deintensity: kebalikan dari intensity.
- Neutralize: netral saja.
- Mask: menutup-nutupi.
- Simulate: mengekspresikan perasaan yang kita tidak rasakan unutk membuat orang lain merasa dihargai.
- Facial feedback: ekspresi dulu, kemudian beru merasakan emosinya. Contohnya, teman tertawa, kita ikutan tertawa. Kita senang karena kita tertawa, padahal bukan karena teman tertawa.
4. Eye communication; tatapan mata menunjukkan karakter dari sebuah hubungan. Tujuan eye communication, yaitu:
- to monitor feedback
- to secure attention
- to regulate
- to signal status
- to signal the nature of relationship
- to compensat physical distance
- to show culture
- eye avouidance: menghindari tatapan dan menatap orang lain
5. Touch communication; tactile communication: melalui sentuhan. Arti sentuhan, yaitu:
- Positive communication
- Playfulness: agresif
- Control ritual: menahan tangan dan memberi pelukan ketika teman sedang marah.
- Task related: membantu mengangkat dan menggandeng orang ke kursi roda (berkaitan dengan kerjaan).
- Positive vibes: menunjukkan rasa sayang
- Negative vibes: mendorong, memukul, menonjok orang
- Sentuhan menunjukkan budaya
6. Paralanguage communication merupakan aspek
nonverbal dari komunikasi verbal yang disampaikan. Prinsip ini cirinya yaitu menyampaikan
sebuah kalimat yang tanpa kita sadari memberikan penekanan dan intonasi yang
lebih kepada suatu kalimat.
7. Silence; diam bisa berarti berpikir, marah, kecemasan, merasa lelah, sedih. Pada saat mencapai efek tertentu, diam bisa digunakan sebagai cara mengambil fokus orang lain kembali kepada kita.
8. Spatial Message and Terrotoriallity; proxemic; jarak menentukan keintiman. Teori spatial message, yaitu:
- Protection theory
- Equilibrium theory
- Expectancy violance theory
Territoriallity dibagi menjadi 3, yaitu:
- Primary; area miliki kita. Contohnya, kamar dan tempat duduk kita.
- Secondary; bukan wilayah kita namun kita sering ke area itu.
- Public territory; jauh, milik semua orang, punya siapa saja. Contoh, bangku di taman dan mall.
Cara menandari territory, yaitu:
- Hewan: dikencingin.
- Manusia: diberi templete atau papan nama.
Cara menghindari invasi territory, yaitu with drawal, turf defense, insulation, linguistic collusion.
8. Artifactual communication; pesan yang disampaikan melalui objek buatan manusia. Contoh, baju, cat rambut, perhiasan, tato, cincin.
9. Olfactory communication; to attract others, to aid taste, to aid memory, to create an image.
10. Temporal communication; cronemix; mengomunikasikan pesan kita dengan time management kita.
Terakhir, dalam komunikasi nonverbal, kita juga harus memahami tentang kompetensi komunikasi nonverbal. Kompetensi komunikasi nonverbal dibagi menjadi dua, yaitu:
1. Encoding nonverbal messages. Ada beberapa cara untuk meningkatkan keterampilan encoding nonverbal messages, yaitu:
- Pertimbangkan/pikiran dengan serius cara kita berkomunikasi nonverbal, sama seriusnya dengan komunikasi verbal kita.
- Jaga konsistensi antara pesan verbal dan nonverbal.
- Monitor pesan nonverbal kita dengan cara yang sama kita memonitor pesan verbal.
- Hindari melakukan komunikasi nonverbal yang ekstrem dan monoton.
- Pertimbangkan situasi ketika melakukan komunikasi nonverbal.
- Jaga eye contact.
- Hindari menggunakan “adaptors” di tempat umum.
- Jangan menggunakan wewangian/parfum secara berlebihan.
- Berhati-hati ketika melakukan komunikasi sentuhan karena bisa saja tidak tepat tergantung dari kedekatan hubungan dan budayanya.
2. Decoding nonverbal messages; bersifat tentatif. Ada beberapa cara untuk meningkatkan keterampilan decoding nonverbal messages, yaitu:
- Ketika menilai komunikasi nonverbal, lihat apakah ada makna alternatif dari pesan tersebut.
- Pesan nonverbal bisa berasal dari beberapa saluran komunikasi nonverbal yang berbeda. Pemaknaan bisa lebih akurat bila mempertimbangkan konsistensi pesan dari beberapa saluran komunikasi nonverbal.
- Meski kita telah mempertimbangkan beberapa saluran komunikasi nonverbal, pertimbangkan juga bahwa kita bisa salah.
- Interpretasi dan kesimpulan ketika menilai komunikasi nonverbal harus dilihat pada konteks budaya.
- Pertimbangkan bahwa ada beberapa faktor yang mungkin mempengaruhi cara berkomunikasi nonverbal seseorang.
Dari 10 channels tadi, saya ingin mengevaluasi channels komunikasi nonverbal apa saja yang paling sering saya alami secara sadar maupun tidak, yaitu body messages, facial management, eye communication. Ketiga channels ini yang paling sering saya lakukan. Channels ini sering terjadi ketika melakukan sebuah presentasi di kelas, berbicara dengan orang baru, konsultasi dengan dosen atau psikiater, dan berbicara kepada orang yang lebih tua untuk menunjukkan kesopanan dan agar orang merasa dihargai.
Nama penulis: Angelia Austina
NIM: 00000070924

Komentar
Posting Komentar