Conflict

           


         Konflik yang paling buruk yang saya alami yaitu dengan pacar saya yang sudah menjadi mantan saya. Pertama, saya mengalami personal distance issues karena saya orangnya tidak kuat long distance relationship dan saya lebih menyukai percakapan yang nonvirtual. Padahal status saya hanyalah seorang pacar. Namun, saya tidak tidak jika tidak bertemu. Kedua, saya mengalami distrust issues karena start hubungan saya dengannya ada yang janggal yaitu ketika dia belum selesai dengan mantannya sebelumnya sehingga hubungan yang dijalani pun tidak bahagia. Saya menjadi orang yang suka curiga. Itulah isu-isu yang saya alami. Kemudian, jika dalam konteks konflik, ada beberapa hal juga membuat saya sering bertengkar dengan dirinya. Pertama, ketika kita pacaran, dia masih sering chattingan dengan perempuan lain dengan intensi yang tidak wajar dan membuat saya suka marah sehingga sering terjadi konflik. Terlepas dari konten konflik, konflik yang mendasar adalah disebabkan karena perbedaan tujuan. Tujuan yang tak sama membuat kami tidak bisa bersatu. Kami dihalangi oleh perbedaan agama sehingga kita memiliki perbedaan pandangan/perspektif/pemahaman akan tujuan hidup yang mana saya tidak bisa kompromi dengan hal itu. Konflik ini tidak dapat dikompromisasikan. Saya juga tidak ingin egois untuk memilikinya dan mengambilnya dari Tuhannya. Saya juga tidak ingin mengubah prinsip religius saya hanya karena cinta sehingga kami juga tidak bisa mengambil solusi untuk melanjutkan hubungan kami. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk tidak melanjutkan hubungan kami dan berakhir menjadi teman saja. Gaya konflik inilah yang dinamakan avoiding, yang mana kami memutuskan untuk dua-duanya mundur dari hubungan ini. Saya pikir ini adalah gaya terbaik dan keputusan terbaik dalam hubungan ini.






Nama: Angelia Austina
NIM: 00000070924

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What will we do to face GLOBALIZATION? - Berryl Carlos Manuel XIIA6/8