Emotional Messages
Menjadi komunikator dan komunikan yang baik, tidak serta merta langsung berkomunikasi dengan orang secara praktik. Menjadi komunikator dan komunikan yang kompeten harus mengerti dasar-dasar berkomunikasi, salah satunya kita harus memahami dasar dari emotional messagges. Untuk memahami emotional messages, ada delapan prinsip emotional messages yang perlu kita ketahui, yaitu:
1. Emosi bisa terdiri dari emosi primer atau basic emotion dan emosi campuran. Emosi primer terdiri dari emosi sukacita (joy), emosi penerimaan (acceptance), emosi ketakutan (fear), emosi kejutan (surprise), emosi sedih (sadness), emosi jijik (disgust), emosi marah (anger), dan emosi antisipasi (anticipation).
Emosi campuran merupakan kombinasi dari emosi primer, terdiri dari penyerahan (submission), kekaguman (awe), kekecewaan (disappointment), penyesalan (remorse), penghinaan (contempt), agresivitas (aggressiveness), optimisme (optimism), dan cinta (love).
2. Emosi bisa terkait dengan aspek tubuh atau pikiran.
a. Aspek tubuh itu paling terlihat jelas dalam menjelaskan emosimu seperti apa dan bisa diamati dengan mudah.
b. Aspek pikiran dipengaruhi oleh apa yang kita pikirkan untuk suatu peristiwa dan dapat berkaitan dengan budaya dan situasi. Bicara mengenai budaya. Konteks budaya dapat menjadi landasan seseorang dalam mengeluarkan ekspresi terhadap perasaannya dan menginterpretasikan emosi orang lain. Contoh, Indonesia secara umum, wajar untuk mengekspresikan kemarahan pada tahap-tahap tertentu tergantung budayanya.
3. Ekspresi emosi kita dipengaruhi oleh display rules. Display rules adalah mengontrol ekspresi kita mana yang dapat dan tidak dapat diterima oleh lingkungan sekitar kita. Display rules dapat dipengaruhi gender. Secara umum, perempuan cenderung mengekspresikan apa yang mereka rasakan facialy dibandingkan laki-laki. Perempuan cenderung mengekspresikan emosi yang lembut dan nangis. Laki-laki cenderung mengekspresikan emosi-emosi yang marah. Jika perempuan yang marah akan cenderung dinilai negatif.
Emotional labor adalah upaya-upaya kita untuk menampilkan ekspresi emosi dan kontrol emosi. Tujuan: menjaga citra, menjaga perasaan orang lain dan tidak menyakiti hati temanmu, untuk taat pada apa yang diharapkan oleh kita. Misalnya, budaya kita mengharapkan kita menahan diri untuk nangis (laki-laki). Semakin kuat emosi yang didapatkan, semakin susah kita melakukan konsep emotional labor. Ada dua strategi untuk menggunakan emotional labor, yaitu:
a. Surface acting, guna mengontrol wajah, padahal di saat kita dalam keadaan marah sekali atau sedih sekali.
b. Deep acting, guna menutupi emosional sesungguhnya. Misalnya, ketika kita lagi sedih, kita berkata kepada diri sendiri, "saya tidak boleh sedih, saya harus gembira."
4. Emosi bisa mengekspresikan sesuatu menggunakan berbagai channels, baik verbal maupun non verbal. Ekspresi kita membantu kita mengomunikasikan emosi kita, terutama berkaitan dengan encoding dan decoding. Encoding; emosi dikodekan baik secara verbal dan nonverbal. Penekanan yang diberikan melalui kata-kata, gerak tubuh (gesture) dan ekspresi wajah untuk mereka semua (lawan bicara) membantu untuk mengkomunikasikan perasaanmu. Decoding; kita sebagai decoding, memecahkan kode pesan emosional orang lain atas dasar pesan verbal mereka dan isyarat nonverbal.
5. Emosi bisa digunakan secara strategis dan tujuan tertentu. Contoh, emotional blackmail merupakan salah satu strategi komunikasi emosional dimana ada ancaman yang jelas jika orang lain tidak mematuhinya.
6. Ekspresi dari emosi itu memiliki konsekuensi yang signifikan. Aspek ini bisa menambah keintiman kedekatan dengan orang lain dan juga bisa membuat lebih jauh dengan orang lain. Orang lain mengentrepretasikan emosi kita. Ketika kita mengungkapkan emosi kita, itu artinya kita sedang mendeskripsikan siapa kita. Ada konsekuensi orang lain untuk menilai kamu. Ekspresi emosi itu juga dapat mempengaruhi kinerja, kerja kita, persepsi atasan terhadap kita.
7. Emosi itu bisa adaptif atau maladaptif. Emosi bisa menyesuaikan dengan situasi.
a. Adaptif; emosi yang kamu rasakan itu bermanfaat baik buat kamu.
b. Maladaptif; emosi yang membuat kamu menjadi orang yang negatif, tergantung dari bagaimana kamu bereaksi dengan hal itu.
8. Emosi itu menular. Artinya ketika kamu melihat orang lain emosi, kita ikut merasakan emosinya itu. Penularan emosi itu bisa digunakan untuk persuasi. Jenis lain dari aspek ini, yaitu emotional appeal. Artinya, kamu berusaha melakukan sesuatu untuk memancing emosi orang lain.
Saya seorang mahasiswa jurnalistik bernama Angelia Austina dengan NIM 00000070924 ingin membagikan prinsip emotional messages dan emotional labor yang paling sering saya gunakan dalam kehidupan saya, yaitu pada aspek nomor enam tentang ekspresi dari emosi itu memiliki konsekuensi yang signifikan. Emosi apapun yang saya berikan kepada orang lain, baik datar, marah, senang, maupun sedih itu dapat membuat lawan bicara saya memandang saya atau menginterpretasikan saya. Ada konsekuensi dari setiap emosi yang saya keluarkan, bisa menambah kedekatan atau kejauhan dengan orang lain. Saya pribadi memiliki kepribadian yang asertif sehingga saya bisa mengontrol ekspresi emosi saya agar orang lain tidak menginterpretasi saya dalam hal yang buruk guna menjaga citra diri, keluarga, dan budaya saya.
Ada pula beberapa hambatan yang perlu diketahui untuk diantisipasi ketika menghadapi emotional messages, yaitu:
1. Personality factors berkaitan dengan karakter kita yang dapat berupa ekstrover atau introver. Kepribadian kita mempengaruhi emosi yang kita rasakan, sejauh mana kita merasa mereka (lawan bicara), dan cara-caranya yang saya ungkapkan atau sembunyikan emosi kita dan cara kita merespon terhadap emosi orang lain. Orang ekstrover mengalami lebih banyak emosi positif dan lebih banyak lagi kompeten dalam mengekspresikan emosi daripada orang yang introver. Mereka yang memiliki neurotik kecenderungan lebih mungkin untuk mengalami lebih banyak emosi negatif.
2. Inadequate interpersonal skills. Banyak orang tidak tahu bagaimana mengekspresikan perasaan mereka, terutama pada perasaan negatif. Faktor penyebabnya adalah kita tidak punya pengetahuan emosi yang cukup. Oleh karena itu kita tidak tahu bagaimana cara mengekspresikan emosional kita.
3. Social and cultural customs. Aspek ini menggambarkan bagaimana kita mengekspresikan emosi kita sangat dipengaruhi atau dihambat oleh budaya, lingkungan kerja, atau keluarga kita.
4. Fear; berbagai jenis ketakutan itu muncul, ketika kita memunculkan ekspresi. Kita jadi takut memunculkan ekspresi karena takut dinilai negatif oleh orang lain. Ada jenis rasa takut yang adaptif Jenis ini dideskripsikan dengan ilutrasi berikut. Kalau kamu marah, tunggu dulu satu jam, biar perkataan kita tidak menyakitkan orang lain. Kebalikannya, rasa takut yang maladaptif diilustrasikan seperti berikut. "Saya takut menasehati dia karena tidak kerja tugas, tetapi nanti dia jadi benci sama saya."
Untuk menciptakan emosi yang kompeten, ada beberapa guidelines yang bisa diikuti.
1. Kalau lagi sedih (emosi), gunakanlah kata-kata yang spesifik supaya jelas dan lugas.
2. Jelaskan alasan-alasan mengapa kita merasakan sedih (emosi).
3. Harus menyadari bahwa emosi yang kita rasakan bisa jadi emosi campuran. Contohnya, saya senang teman saya dipilih menjadi ketua ukm, tetapi di satu sisi saya sedih karena dia menjadi tidak punya banyak waktu bersama saya. Emosi ini merupakan emosi campuran yang harus disadari bahwa di saat senang pun, kita juga bisa merasakan kesedihan.
4. Jangkar emosi kita untuk dipresentasikan.
5. Jelaskan apa yang kita inginkan.
6. Menghargai batasan emosional.
7. Hindari menyalahkan orang lain, ketika kita sedang bertengkar. Ada beberapa cara untuk menghindarinya:
• Jelaskan (describe) daripada mengevaluasi (evaluate).
• Akui tanggung jawab kita daripada menyalahkan orang lain.
• Pertahankan wajah positif dan negatif.
• Berusahalah untuk keterbukaan (openness) daripada dengan tarik-menarik (withdrawal).
4.
3
1.
.png)
Komentar
Posting Komentar