Verbal Messages
Menjadi komunikator dan komunikan yang baik, tidak serta merta langsung berkomunikasi dengan orang secara praktik. Menjadi komunikator dan komunikan yang kompeten harus mengerti dasar-dasar berkomunikasi, salah satunya kita harus memahami dasar dari verbal messagges. Ada beberapa prinsip verbal messages yang harus kita pahami terlebih dahulu, yakni:
1. Messages are packaged; pesan verbal dan nonverbal terjadi secara
bersamaan, keduanya saling menguatkan
atau mendukung satu sama lain. Kita akan
memperhatikan, ketika misalnya verbal
dan nonverbal tidak konsisten.
2. Message meaning are in people; makna pesan bukan ada pada kata-kata
atau pesan itu sendiri, namun pada
receiver yang “create meaning” bukan
sekedar “receive meaning”.
3. Meanings are denotative and conotative; makna denotatif adalah makna obyektif, sementara makna konotatif adalah makna yang
subyektif. Dalam KAP, makna konotatif ini kerap menjadi sumber kesalahpahaman.
4. Messages vary in abstraction; 1) Pesan verbal yang efektif
menggunakan berbagai level
abstraksi kata. Kadang, yang baik
menggunakan istilah yang umum,
kadang lebih baik menggunakan
kata yang spesifik; 2) Kata yang lebih spesifik, atau tidak
terlalu abstrak, membantu orang
untuk memahami lebih baik.
5. Messages may be metacommunication; menanyakan / bagaimana kita mengkomunikasikan tentang komunikasi.
6. Messages vary in politeness; terkait kebutuhan, yakni 1) Positive face adalah kebutuhan kita untuk dilihat baik oleh orang lain, seperti orang baru, rekan kerja, teman sekampus, dan dosen. 2) Negative face adalah kebutuhan kita dilihat tidak baik / apa adanya oleh orang lain, seperti teman dekat dan sahabat; terkait kesopanan, yakni 1) mempertimbangkan perasaan orang lain. 2) Confidence kita itu dinilai sebagai kesopanan; terkait directness, yakni 1) Straight to the point. 2) Lugas; terkait inclusion and exclusion, yakni jika ada temanmu yang lain tidak mengerti topik yang sedang dibicarakan, berusahalah untuk ganti topiknya.
7. Messages Can Be Onymous or Anonymous; onymous -> author is clearly identified; anonymous -> author is not identified.
8. Messages Can Deceive;
Jenis-jenis kebohongan:
1. Pro social deception
2. Self-enhancement
3. Selfish deception
4. Anti-social deception
Bagaimana orang berbohong?
1. Exaggeration
2. Minimization
3. Substitution
4. Equivocation
5. Omission
9. Messages vary in assertiveness; asertif adalah kemampuan mengungkapkan diri , pandangan atau apa yang diinginkan pada orang lain secara terbuka, namun tidak dengan cara agresif.
Selain prinsip-prinsip verbal messages, konteks verbal messages yang perlu diketahui yaitu confirmation and disconfirmation. Confirmation adalah pola komunikasi dimana kita mengakui keberadaan orang lain dan pentingnya orang lain dalam berkomunikasi. Kita cenderung menghargai orang lain jika dibandingkan dengan disconfirmation. Disconfirmation kebalikan dari confirmation, disconfirmation adalah pola komunikasi dimana kita tidak mengakui dan mengabaikan keberadaan dan komunikasi yang dilakukan seseorang. Kita cenderung tidak menghargainya. Disconfirmation terkait 5 hal, yaitu:
1. Racism; suatu cara pandang yang memandang ras sendiri paling tinggi dan menganggap ras yang lain rendah. Cara pandang ini dapat ditujukan kepada suatu kelompok tertentu atau secara individual. Bahaya dari racism, yaitu walaupun secara sengaja atau tidak sengaja, perkataan yang rasis tetap saja membuat sakit hati.
2. Microaggretion; secara sengaja atau tidak sengaja dapat menyebabkan prejudices (penilaian negatif terhadap seseorang) biasanya dapat berbentuk ras, suku, budaya, dan agama. Contoh secara verbal: memuji merujuk pada gendernya. Contoh secara behavioral: merujuk pada tingkah laku kita ketika kita rasis.
3. Ageism; cara pandang yang merendahkan seseorang karena usianya. Biasanya sering terjadi kepada orang tua ke anak-anak atau anak-anak ke orang tua. Contoh, "orang tua gaptek", "ABG gaptek", dll.
4. Heterosexism; pandangan buruk mengenai gay dan lesbian. Pandangan ini memang tidak ada hukumnya, namun secara sosial pandangan ini tidak baik karena meskipun seseorang gay atau lesbian, mereka memiliki kehidupan lain yang tidak selalu buruk. Kita tidak bisa menilai buruk seseorang hanya karena ia gay atau lesbian.
5. Sexism; pandangan negatif terhadap gender tertentu. Contohnya, perempuan harus bisa masak, padahal itu adalah keterampilan dasar yang lelaki pun harus bisa. Laki-laki dipandang lemah ketika nangis, padahal tidak ada salahnya laki-laki menangis, mereka juga manusia yang punya perasaan.
Terakhir, yaitu effective verbal messaging yang terkait 5 hal antara lain:
1. Avoid intensional orientation; dibagi menjadi dua, yaitu
- Extentional orientation, berdasarkan memberi penilaian berdasarkan pengamatan dan analisis sendiri.
- Intentional erientation, berdasarkan memberi penilaian berdasarkan pengamatan orang lain/ apa kata otang lain.
2. Avoid allness; kita mungkin berpikir kita mengetahui
segala sesuatu tentang seseorang atau
kenapa mereka melakukan sesuatu, namun
jelas kita tidak mengetahui semuanya. Kita
tidak pernah tahu semua alasan kamu
melakukan sesuatu, sehingga kita tidak
pernah bisa tahu semua alasan kenapa
orangtua, teman, atau musuh kita
melakukan sesuatu. Ketika kita berasumsi
bisa mengatakan hal yang kita pikirkan
menggambarkan segala sesuatu tentang
seseorang, ini disebut allness.
3. Avoid confusing facts and inferences; kita bisa menerima suatu pemikiran atau opini atau apapun harus berasal dari fakta dan tidak mendengarkan dari orang lain. Ini bisa didapatkan jika kita observasi atau meneliti.
4. Avoid indiscrimination; bentuk dari stereotype. Bentuk ini menghindari stereotype, kejadian terhadap kelompok-kelompok tertentu.
5. Avoid polarization; extremes, contohnya, mempolarisasi yang kaya dan yang miskin.
6. Avoid static evaluation; menghindari evaluasi yang statis, namun evaluasilah dengan mengikuti perkembangan jaman.
Dari 9 poin prinsip verbal messages ini, saya Angelia Austina dengan NIM 00000070924 dari program studi Jurnalistik 2022, menarik sebuah kesimpulan dari pengalaman saya berkomunikasi secara verbal. Prinsip yang sering saya lakukan dan saya sadari ketika melakukan komunikasi verbal, yaitu messages vary in assertiveness. Saya akui saya suka berteman dengan terbuka dengan banyak orang namun saya tidak suka jika terlalu agresif dengan orang lain sehingga mengarahkan perilaku saya cenderung lebih santai ketika berkomunikasi dengan orang, apalagi teman baru. Pengakuan ini benar adanya ketika teman memberikan first impression dan opini mereka terhadap saya. Respon yang biasanya saya dengar ialah "lu tuh orangnya santuy", "friendly", "ramah", "ga aneh-aneh", "positive vibes". Hal yang saya sadari yang membuat saya suka berteman dan berkomunikasi dengan orang lain tanpa tindakan yang agresif disebabkan karena saya memang tidak ada niatan berkomunikasi dengan orang lain dengan tujuan tertentu. Perilaku saya memang cenderung apa adanya, dipengaruhi faktor psikologis saya yang cenderung realistis terhadap kehidupan. Yang saya lakukan ketika berkomunikasi dengan orang baru ialah mengajak ngobrol supaya mencairkan suasana dengan topik-topik komunikasi yang sehat dan sewajarnya.

Komentar
Posting Komentar