Cross-Culture Communication: Komunikasi Lintas Budaya



    Menjadi komunikan dan komunikator yang baik adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki bagi setiap mahasiswa ilmu komunikasi. Tentu kita akan dihadapi oleh berbagai macam perbedaan pandangan lawan bicara kita, salah satunya adalah perbedaan lintas budaya. Budaya merupakan gaya hidup dari kelompok orang tertentu secara relatif yang diturunkan dari generasi ke generasi. Mengapa penting untuk kita memahami budaya? Beragam aspek bisa kita dapatkan, salah satunya yaitu belajar budaya memperluas wawasan komunikasi interpersonal kita. Namun, tidak selalu manusia bisa beradaptasi untuk transmisi dengan budaya orang lain. Ada dua tipe transmisi budaya, yaitu:


1. Enkulturasi; belajar budaya asli kita untuk mengembangkan identitas etnis. Identitas etnis menggambarkan sejauh mana kita berkomitmen terhadap nilai dan kepercayaan budaya kita sehingga menjadi lebih kuat.
2. Akulturasi; belajar budaya orang lain tanpa menghilangkan esensi dari kebudayaan dirinya sendiri.
    
    Ada 7 hal yang membedakan budaya satu dengan budaya lain yang mempengaruhi cara pikir dan tindakan kita:
1. Individualis vs Kolektivis. Individualis cenderung menilai kesuksesan merupakan kesuksesan pribadi. Sedangkan, kolektivis menilai kesuksesan harus diraih bersama-sama.
2. High and Low Context Culture. High Context Culture cenderung berkomunikasi non verbal, dengan menggunakan kode-kode, simbol-simbol sehingga semakin sedikit kata yang keluar. Low Context Culture cenderung berkomunikasi secara lugas, verbal, eksplisit, dan terang-terangan.
3. Power Distance, dibagi jadi dua yaitu high; kekuasaan pada sedikit orang and low; kekuasaannya merata.
4. Masculine vs Feminine Culture. Masculine Culture cenderung menghargai sikap agresif dalam pencapaian individu. Feminine Culture menggambarkan kesedehanaan, solidaritas kelompok.
5. Ambiguilty tolerant, dibagi jadi dua high; menoleransi ketidakpastian and low; tidak menoleransi ketidakpastian.
6. Long and Short Term Orientation. Long Term Orientation cenderung berorientasi pentingnya masa depan. Short Term Orientation berorientasi pada masa kini dan lalu. 
7. Indulgence vs Restraint. Indulgence cenderung menahan diri terhadap bentuk kesenangan, kesedihan, emosi, dan lain-lain. Sedangkan, restraint cenderung mengungkapkan kesenangan dan menikmati hidup.

    Setelah mengetahui teori-teori diatas, kita semakin memahami tipe keberagaman manusia dalam berkomunikasi lintas budaya. Tentu kita belajar bukan hanya teori saja, melainkan juga dengan dipraktikkan. Praktik komunikasi lintas budaya memang sering kali terjadi trial and error karena dalam mempraktikkan banyak kekurangan yang masih perlu dilatih dan menjadikannya itu sebagai sebuah tantangan untuk maju. Tantangan saya dalam terkait dengan komunikasi antarpribadi lintas budaya, yaitu:
1. Aspek enkulturasi. Kurangnya saya dalam belajar budaya sendiri, akibat dari merantau terlalu lama sejak umur 12 tahun. Saya jauh dari keluarga dan sering beradaptasi dengan lingkungan di luar (keluar dari comfort zone) sehingga budaya keluarga sangat minim saya dapatkan. 
2. Aspek ambiguilty tolerant. Saya bagian dari low ambiguilty tolerant karena saya cenderung keras dan tidak menoleransi ketidakpastian. Segala sesuatu harus jelas tujuannya, ada alasan yang kuat untuk sesuatu, dan tidak bisa ambigu. Saya harus belajar untuk bisa menolerir ketidakpastian. Tujuannya adalah memiliki keseimbangan dan memperluas pandangan serta wawasan komunikasi interpersonal.
3. Aspek indulgence. Saya cenderung menahan diri dalam mengungkapkan perasaan. Budaya di keluarga saya cenderung mengutamakan logika daripada perasaan, sehingga saya dididik seperti itu juga. Saya harus belajar melatih wawasan emosional dengan baik sehingga saya mengerti dan dapat memaknai, menghargai apa itu senang, apa itu sedih, apa itu kecewa.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

What will we do to face GLOBALIZATION? - Berryl Carlos Manuel XIIA6/8

Conflict